"Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai, tiada topang kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat dan batu jadi tanaman."
Ungkapan syair lagu Koes Plus setidaknya dapat menjadi alat introspeksi diri untuk seluruh anak bangsa dan dapat menjadi gambaran untuk kita renungi, atau menjadi suatu proses berkontemplasi dengan kondosi sosial, ekonomi, politik dan budaya bangsa kita.
Indonesia memang terkenal sebagai negara maritim terbesar di dunia, yang dimana luas lautnya mencapai 3 juta kilometer dibanding daratannya yang hanya sekitar 2 juta kilometer. Lautnya terisi dengan kekayaan ikan dengan spesies bervariasi.
Selain itu, Indonesia dikenal dengan negara kepulauan (Nusantara), dimana memiliki tidak kurang 17 ribu pulau-pulau. Bahkan dalam foto citra satelit terakhir jumlah pulau tersebar di Nusantara ini sekitar 18 ribu pulau dan sekitar 6 ribu yang berpenghuni.
Daratannya terkenal dengan tanah subur,memiliki kandungan kekayaan SDA dengan berbagai jenis. Fakta ini sayangnya tidak berbanding terbalik dengan taraf kehidupan dan kesejahteraan warganya yang dihuni sekitar 250 juta jiwa.
Anomali Negeri Salah Urus
Banyak anak-anak bangsa yang nyaris putus asa atau frustasi dengan fenomena ini. Tak jarang diantaranya harus hengkang kenegeri-negeri tetangga seperti Malaisyia, Singapura, Tailand dan negara-negara lain di dunia untuk memperbaiki atau untuk bertahan hidup.
Hingga yang paling tragis ada diantaranya memilih untuk mengakhiri hidupnya demi untuk memberi kritik kepada penguasa negeri ini. Agar melihat, mendengar, dan mau melakukan perubahan dan keberpihakan pembangunan bagi warga marginal Desa-Kota.
Sebut saja Sondang sang aktivis mahasiswa beberapa tahun silam, memilih mengakhiri hidupnya dengan cara membakar diri di depan kantor Istana Negara, serta seorang aktivis muda di Kabupaten Polewali Mandar yang rela melompat dari ketinggian demi memberi pesan protes terhadap ketimpangan di negeri tercinta ini.
Janji Kemerdekaan
Para founding fathers atau para pendiri bangsa indonesia dahulu rela mengorbankan jiwa dan raganya demi satu cita-cita yang maha mulia. Satu cita-cita atau mimpi tentang negeri yang sedang ia perjuangkan, tidak lain ialah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Saat ini usia indonesia memimjam bahasa James richardo, telah memasuki 71 tahun. Seharusnya negara telah mampu mengantar ke geberbang kemerdekaan yang sesungguhnya.
Meminjam istilah Bung Karno, kapal menuju Indonesia sejahtera ialah "Kemerdekaan Indonesia" telah hadir memberi kehidupan yang layak bagi seluruh anak-anak negeri siapapun dia, darimanapun dia, bagaimanapun dia.
Tantangan dan Peluang Indonesia
Indonesia saat ini sudah berada dalam pusaran ekonomi global. Ekonomi global yang dimaksud penulis adalah dimulainya sistem ekonomi liberal yang ditandai dengan laju perdagangan berbagai sektor sudah nyaris tidak ada lagi sekat.
Bahkan saat ini negar-negara asian memberlakukan sistem ekonomi kawasan asian dengan ciri utamanya adalah kebebasan transanksi dipasar bebas asean. Konsep ini sering kita dengar dengan istilah Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
Implikasi sosial yang akan timbul dari konsep MEA tersebut adalah kemampuan sumber daya manusia (SDM) harus betul-betul kompeten.
Konsekuensinya adalah lembaga-lembaga pendidikan di dunia khususnya Indonesia meski melakukan reorientasi pola sistem pendidikan. Agar dapat secara cepat beradaptasi dengan pasar kerja dengan pola kompetitif dan komptensi.
Bukan tidak mungkin angka kemiskinan, pengangguran bagi anak negeri akan semakin melebar jika pemerintah tidak segera memproteksi perkembangan pasar tersebut.
Selain tantangan peristiwa tersebut juga bisa menjadi peluang bagi anak bangsa jika memiliki persiapan yang cukup dalam merespons dinamika tersebut. Antara lain yang harus disiapkan adalah kemampuan berbahasa asing, kemampuan mengoperasikan sistem komputerisasi berbasis IT, dan keterampilan-keterampilan lainnya.
Mengapa penulis optimis bahwa Indonesia mampu bersaing di pasar bebas ASEAN jika dimiliki standarisasi nilai yang dibutuhkan pasar tersebut, bahwa kita ketahui potensi manusia indonesia didalam sumber daya manusia cukup banyak.
Sebut saja Prof BJ Habibi yang memiliki tingkat kecerdasan IQ tertinggi di dunia yang sudah memiliki banyak hak paten dalam dunia keilmuan (sains) dan bukan tidak mungkin Pak Habibi hanyalah salah satu anak bangsa yang membanggakan di bidang sains dan masih banyak yang lainnya.
Sehingga Negeri Kolam Susu ke depan benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat Indonesia. Mengakhiri tulisan ini, izinkan penulis mengucapkan dirgahayu Republik Indonesia yang ke-71 tahun.
Oleh: Santa, S.IP (Mahasiswa Manajemen Pemerintahan Daerah PPS UMI dan Peneliti KOPEL Indonesia)
0 Comment for "Negeri Kolam Susu"